Senin, 24 Februari 2014

Rasa yang tak pernah hilang

Rasa yang tak pernah hilang
By : Evita Armala

Perkenalan tanpa bertatap muka

Perkenalan kita tanpa bertatap muka, berawal dari perkenalan pesan singkat melalui handphone, terkejut saat pertama kali menerima pesan singkat mu yang tiba tiba muncul, yang mendapat nomer handphone ku dari teman sekelasmu yang ku kenal. Marah, jengkel.. mengapa nomer handphone ku tersebar tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku. Tapi setelah mendengar penjelasan mu aku coba redam rasa jengkel yang sedang menghinggap di pikiranku, kau hanya ingin mengenal ku, ya.. hanya sekedar ingin mengenal tak lebih. Satu hari berjalannya waktu, dua hari, seminggu dia selalu menemaniku melalui pesan singkat tanpa bertatap muka. Tak terasa perkenalan kita sudah berjalan selama sebulan, tanpa aku sadar kita belum pernah bertatap muka. Aku merasa nyaman dengan kedekatan kita, tanpa merasa risih walau tanpa status, bahkan belum pernah bertatap muka.
Aku memang saat ini tidak merasa risih, karena aku sudah mempunyai seseorang. tapi seiring berjalannya waktu, aku tau dia merasa gelisah. Pertanyaan yang aku tunggu-tunggu pun keluar dari pesan singkatnya, menanyakan “sebenernya kamu udah punya pacar apa belum sih, selama kita deket apa engga ngerasa risih tanpa status gini ?”.  Melaui pesan singkat itu aku mejelaskan semuanya tanpa satupun yang ditutup-tutupi, lega rasanya sudah mengatakan yang sebenarnya, tanpa ada kesalah pahaman lagi diantara aku dan dia. Setelah penjelasan pesan singkat itu, tak mempengaruhi perkanalan dan pertemanan kita.
Ajaran baru tiba, aku naik ke kelas 3 sedangkan dia ingin malanjutkan ke perguruan tinggi. Tak terasa sudah setahun perkenalan kita yang hanya melalui pesan singkat tanpa bertatap muka, aku tak lagi bersama seseorang itu, karena alasan yang tak jelas. Seperti biasa kamu menyapa ku di pagi hari melalui pesan singkat yang manis, mambuatku lupa akan kesedihan yang sedang menghantuiku dan merubah pagi ku menjadi lebih bersemangat menjalani aktivitas disekolah dengan senyum yang berkembang di bibir ku. Kamu pun sepertinya sangat bersemangat, jika membaca dari pesan singkatmu. entah karena mendengar kabar aku tak lagi bersamanya atau hal lain, yang pasti dia tak seperti biasanya.

#EA


Pertemuan kita yang pertama setelah setahun kenal tanpa bertatap muka

Seperti biasa setiap hari, setiap waktu kita habiskan waktu bersama melui pesan singkat. Waktu itu pun tiba, dimana selama setahun kita mengenal satu sama lain tapi tak pernah bertatap muka.  saat kamu mengajakku untuk bertatap muka, bertemu di sebuah taman di sekitar perumahan.
Aku berdiri di sebuah taman, menuggu seseorang yang ku kenal sudah lama, tapi tak pernah ku temui. Aku menuggu dengan gelisah seperti apa wajah orang itu. rasa rindu, rasa penasaran, rasa gelisah semua bercampur aduk menjadi satu, entah apa yang akan aku katakan nanti saat sudah bertemu. Aku menatap ke langit-langit dan sesekali melihat orang-orang yang sedang bermain skateboard, berdiri lalu duduk di bangku taman menunggu dengan gugup. Mencari-cari menatap satu persatu orang yang berlalu-lalang di taman. Sesekali pandangan mata ku kebawah, langkahku pun berhenti ketika ada seseorang yang menepuk bahu ku, aku berbalik dan menengadahkan kepala ku perlahan. Seseorang yang memakai kaos merah dengan jaket biru, dan celana jeans panjang berwarna hitam.   Rambutnya ikal, bentuk hidungnya mancung, Tubuh tegap tinggi hampir saja leher ini copot karena manatap wajahnya, aku hanya setinggi bahu orang itu. Tangan hangatnya menggenggam jemari ku. “sudah lama ya ? maaf sudah menunggu lama” katanya dengan suara lembut dan senyum yang manis, seketika saja hati ini langsung meleleh melihat senyum sempurna yang berkembang dibibirnya. Menambah kesempurnaan yang tuhan ciptakan. Akupun menjawab pertanyaannya dengan senyum tersipu malu. Kita menghabiskan waktu bersama di taman itu berjam-jam dengan cerita, hal seru dan candaan konyol yang membuat senyum ku terus berkembang dibibir. Seakan waktu terhenti dan aku berharap hari ini tak cepat berakhir.
Waktu terus berjalan, dan aku benci jika melihat jam di handphone ku, yang memang mengharuskan pertemuan kita di hari itu berakhir. Tapi, semoga tak hanya hari ini aku bisa manatap wajahmu dan bisa bercerita banyak secara langsung kepadamu seperti hari ini, tak hanya melalui pesan singkat seperti biasanya. Aku sampai di depan pintu rumah dan memegang gagang pintu, handphone ku berdering nada pesan masuk. Aku tak sabar membaca pesan itu, dengan penasaran aku buru-buru membuka tas dan mengambil handphone di dalam tas. Ternyata dari dia yang baru saja aku temui, senyum ku pecah saat itu, aku bahagia sampai loncat kegirangan di depan pintu saat membaca pesan singkat darinya, bahwa ia mengajakku nonton besok malam. Aku masuk rumah dengan senyum lebar dan merah dipipi, berjalan melawati ruang tamu begitu saja, tanpa melihat dan menyapa mamah, papah, adik, dan kakakku yang sedang bersendau gurau di ruang tamu. Mereka melihat dengan tatapan yang heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi ? aku hanya membalas dengan senyuman yang manis. Lalu berjalan cepat menuju kamar ku,  ingin cepat-cepat tidur rasanya, mimpi indah dan tak sabar menunggu besok malam.

Aku sengaja bangun pagi-pagi walaupun aku tau hari ini hari libur, dan seperti biasa aku terus memengang handphone ku sejak tadi dan membalas pesan singkat darinya. dia Menanyakan “nanti malam aku jemput ya dirumah?” isi pesan darinya. Lagi-lagi aku loncat kegirangan, hampir saja jantungku copot dibuatnya, berdetak lebih cepat tak seperti biasanya. Tak sabar menanti, nanti malam.
Sepertinya malam ini akan lebih indah dari hari kemarin saat pertama kali manatap mata dan senyumnya. Aku berdiri didepan kaca, terlihat sangat girly memakai dress hitam dengan hiasan pita putih melingkar di pinggang, dan flat shoes berwarna pink. Terdengar suara mesin mobil yang berhenti didepan rumah, dengan sigap aku langsung berlari ke arah jendela kamarku, melihat ke arah luar, memastikan apakah itu dia. Mobil nissan livina x-grear warna abu-abu yang berhenti tepat didepan rumahku, seseorang memakai baju putih dengan jaket hitam, dan celana jeans panjang berwarna hitam. Rambutnya ikal, Tubuh tegap tinggi. Ya ternyata dugaan ku benar, itu dia yang keluar dari dalam mobil. Aku pun langsung berlari kembali kedepan kaca merapihkan rambut ku agar terlihat lebih rapih dan memasangkan jepitan sebagai penghias dirambut. Setelah ku rapihkan rambut, aku mengela nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugup, menenangkan jantung yang sejak tadi berdetak cepat. Lalu berjalan menuju pintu dan menghampirinya yang sudah menunggu di ruang tamu dengan air teh yang sudah ada di atas meja.
Di sepanjang jalan menuju gedung XXI dia menggenggam tangan ku dengan hangat, membuat jantung ini selalu berdetak lebih cepat, aku tak berhenti tersenyum dan terus memandangi tangan mu yang menggenggam tanganku dan sesekali menengadahkan kepalaku kesamping menatap wajahnya lalu menunduk malu saat dia mengetahui aku sedang memandang wajahnya. Di sepanjang film yang diputar dia terus memegang tangan ku seakan tak mau lepas dan takut kehilangan. Perasaanku pun berubah yang tadinya dingin menjadi hangat, dia ubah semuanya menjadi manis dan membahagiakan, bisa melupakan semua kenangan buruk yang baru saja ku lewati kemarin dan menyadari bahwa hanya dia yang selalu ada, tak pernah meninggalkan ku walau hatinya kecewa saat hati ini sudah menjadi milik orang lain, bahkan saat aku terpuruk dia selalu ada di dekatku.
Senyum ku tak berhenti berkembang sampai film itu berakhir dan pertemuan kita hari ini juga harus berakhir, ingin rasanya lebih lama lagi mata ini tetap bisa menatap wajah mu dari dekat seperti ini. Di sepajang perjalanan pulang, kamu menanyakan tentang bagaimana perasaan ku hari ini nonton berdua dengannya. Aku menjawab dengan senyuman malu menandakan aku sangat bahagia hari ini.

#EA


Cinta tak mengenal jarak

aku mengawali pagi di hari senin ini menjadi lebih bersemangat, lagi-lagi handphone tak bisa lepas dari tanganku ini, entah seperti ada magnet yang menempel sangat kuat sampai tak mau lepas dari tangan dan mataku. Saat pulang sekolah dan sampai dirumah aku terus melihat handphone ku, sangat sepi tak seperti biasanya selalu berdering, aku terus melihat ke arah layar handphone. Kenapa tak berdering sejak jam istirahat berakhir bahkan sampai jam sekolah berakhir dan sekarang sudah mau menjelang malam. Tak seperti biasanya dia tak memberi kabar, banyak pertanyaan di pikiranku. Mengapa tak ada kabar? Apa ada yang salah dariku? Atau dia lagi sibuk? Atau dia mau mulai menjauh dari ku??? Aaaaaahhh terlalu banyak pertanyaan, membuat raut wajah kegelisahan ku muncul. Aku takut, aku takut akan merasakan kehilangan, aku takut merasakan kekecewaan. Hanya itu yang aku takutkan. Saat aku memikirkan semuanya. handphone ku berdering, mataku langsung menatap cepat ke arah layar handphone, benar itu darinya. Di pesan singkatnya dia menjelaskan bahwa esok hari ia akan pindah ke luar kota untuk melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi negri di Yogyakarta, senyum ku yang tadinya berkembang melihat ada pesan darinya, seketika lenyap dan mataku tiba-tiba berair. Apa harus aku kehilangan lagi? Aku benci, aku benci perpisahan. Baru saja kita bertemu setelah lama kita tak pernah menatap wajah masing-masing. Apa cukup hanya dua hari kita menghabiskan waktu bersama setelah setahun kita tak pernah bertatap muka dan sekarang harus terpisah lagi, bahkan lebih lama lagi dari sebelumnya.
“Aku menyesal mengapa kita tak pernah berani bertemu sejak awal berkenalan?”
“Mengapa saat kita masih dikota yang sama, bahkan di satu daerah perumahan yang sama kita tak pernah memanfaatkan untuk bertemu?”
“mengapa rasa ini terlambat merasakan kesungguhanmu?”
“mengapa kini saat kita baru bertemu, kita cepat dipisahkan?”
Keesokkan harinya saat dia berpamitan kepada ku. Aku harap ini hanya mimpi, ini tak nyata.. tapi berbeda dengan keingginanku. Kita harus berpisah kembali bahkan dengan waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Dengan tangannya yang hangat, dia mengenggam jemari tangan ku mencoba menenangkan hati ku yang gelisah dan meyakinkanku bahwa dia akan mengunjungiku setiap satu atau dua kali dalam sebulan, bahkan saat liburan semester tiba, dia janji langsung pulang menemui ku. Hati ku sedikit agak lebih tenang mendengarnya. Dia bertanya “tapi apa kamu sanggup jika harus menjalani long distance relationship” katanya dengan tatapan tajam kepadaku. “apapun resikonya aku siap, karena cinta tak mengenal jarak, sejauh apapun jarak yang memisahkan, asalkan saling percaya dan menjaga kepercayaan masing-masing pasti kita bisa melewatinya”. Jawabku dengan tatapan tajam penuh keyakinan. Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku dan sedikit mangacak rambutku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar