Rasa
yang tak pernah hilang
By : Evita Armala
Perkenalan
tanpa bertatap muka
Perkenalan kita tanpa
bertatap muka, berawal dari perkenalan pesan singkat melalui handphone,
terkejut saat pertama kali menerima pesan singkat mu yang tiba tiba muncul,
yang mendapat nomer handphone ku dari teman sekelasmu yang ku kenal. Marah,
jengkel.. mengapa nomer handphone ku tersebar tanpa meminta izin terlebih
dahulu kepadaku. Tapi setelah mendengar penjelasan mu aku coba redam rasa
jengkel yang sedang menghinggap di pikiranku, kau hanya ingin mengenal ku, ya..
hanya sekedar ingin mengenal tak lebih. Satu hari berjalannya waktu, dua hari,
seminggu dia selalu menemaniku melalui pesan singkat tanpa bertatap muka. Tak
terasa perkenalan kita sudah berjalan selama sebulan, tanpa aku sadar kita
belum pernah bertatap muka. Aku merasa nyaman dengan kedekatan kita, tanpa
merasa risih walau tanpa status, bahkan belum pernah bertatap muka.
Aku memang saat ini
tidak merasa risih, karena aku sudah mempunyai seseorang. tapi seiring
berjalannya waktu, aku tau dia merasa gelisah. Pertanyaan yang aku
tunggu-tunggu pun keluar dari pesan singkatnya, menanyakan “sebenernya kamu udah
punya pacar apa belum sih, selama kita deket apa engga ngerasa risih tanpa
status gini ?”. Melaui pesan singkat itu
aku mejelaskan semuanya tanpa satupun yang ditutup-tutupi, lega rasanya sudah
mengatakan yang sebenarnya, tanpa ada kesalah pahaman lagi diantara aku dan dia.
Setelah penjelasan pesan singkat itu, tak mempengaruhi perkanalan dan
pertemanan kita.
Ajaran baru tiba, aku
naik ke kelas 3 sedangkan dia ingin malanjutkan ke perguruan tinggi. Tak terasa
sudah setahun perkenalan kita yang hanya melalui pesan singkat tanpa bertatap
muka, aku tak lagi bersama seseorang itu, karena alasan yang tak jelas. Seperti
biasa kamu menyapa ku di pagi hari melalui pesan singkat yang manis, mambuatku
lupa akan kesedihan yang sedang menghantuiku dan merubah pagi ku menjadi lebih
bersemangat menjalani aktivitas disekolah dengan senyum yang berkembang di
bibir ku. Kamu pun sepertinya sangat bersemangat, jika membaca dari pesan
singkatmu. entah karena mendengar kabar aku tak lagi bersamanya atau hal lain,
yang pasti dia tak seperti biasanya.
#EA
Pertemuan
kita yang pertama setelah setahun kenal tanpa bertatap muka
Seperti biasa setiap
hari, setiap waktu kita habiskan waktu bersama melui pesan singkat. Waktu itu pun
tiba, dimana selama setahun kita mengenal satu sama lain tapi tak pernah
bertatap muka. saat kamu mengajakku
untuk bertatap muka, bertemu di sebuah taman di sekitar perumahan.
Aku berdiri di sebuah
taman, menuggu seseorang yang ku kenal sudah lama, tapi tak pernah ku temui.
Aku menuggu dengan gelisah seperti apa wajah orang itu. rasa rindu, rasa
penasaran, rasa gelisah semua bercampur aduk menjadi satu, entah apa yang akan aku
katakan nanti saat sudah bertemu. Aku menatap ke langit-langit dan sesekali
melihat orang-orang yang sedang bermain skateboard, berdiri lalu duduk di
bangku taman menunggu dengan gugup. Mencari-cari menatap satu persatu orang
yang berlalu-lalang di taman. Sesekali pandangan mata ku kebawah, langkahku pun
berhenti ketika ada seseorang yang menepuk bahu ku, aku berbalik dan
menengadahkan kepala ku perlahan. Seseorang yang memakai kaos merah dengan
jaket biru, dan celana jeans panjang berwarna hitam. Rambutnya ikal, bentuk hidungnya mancung, Tubuh
tegap tinggi hampir saja leher ini copot karena manatap wajahnya, aku hanya
setinggi bahu orang itu. Tangan hangatnya menggenggam jemari ku. “sudah lama ya
? maaf sudah menunggu lama” katanya dengan suara lembut dan senyum yang manis,
seketika saja hati ini langsung meleleh melihat senyum sempurna yang berkembang
dibibirnya. Menambah kesempurnaan yang tuhan ciptakan. Akupun menjawab
pertanyaannya dengan senyum tersipu malu. Kita menghabiskan waktu bersama di
taman itu berjam-jam dengan cerita, hal seru dan candaan konyol yang membuat
senyum ku terus berkembang dibibir. Seakan waktu terhenti dan aku berharap hari
ini tak cepat berakhir.
Waktu terus berjalan, dan
aku benci jika melihat jam di handphone ku, yang memang mengharuskan pertemuan
kita di hari itu berakhir. Tapi, semoga tak hanya hari ini aku bisa manatap
wajahmu dan bisa bercerita banyak secara langsung kepadamu seperti hari ini,
tak hanya melalui pesan singkat seperti biasanya. Aku sampai di depan pintu
rumah dan memegang gagang pintu, handphone ku berdering nada pesan masuk. Aku
tak sabar membaca pesan itu, dengan penasaran aku buru-buru membuka tas dan
mengambil handphone di dalam tas. Ternyata dari dia yang baru saja aku temui,
senyum ku pecah saat itu, aku bahagia sampai loncat kegirangan di depan pintu
saat membaca pesan singkat darinya, bahwa ia mengajakku nonton besok malam. Aku
masuk rumah dengan senyum lebar dan merah dipipi, berjalan melawati ruang tamu
begitu saja, tanpa melihat dan menyapa mamah, papah, adik, dan kakakku yang
sedang bersendau gurau di ruang tamu. Mereka melihat dengan tatapan yang heran
dan bertanya-tanya apa yang terjadi ? aku hanya membalas dengan senyuman yang
manis. Lalu berjalan cepat menuju kamar ku,
ingin cepat-cepat tidur rasanya, mimpi indah dan tak sabar menunggu
besok malam.
Aku sengaja bangun
pagi-pagi walaupun aku tau hari ini hari libur, dan seperti biasa aku terus
memengang handphone ku sejak tadi dan membalas pesan singkat darinya. dia
Menanyakan “nanti malam aku jemput ya dirumah?” isi pesan darinya. Lagi-lagi
aku loncat kegirangan, hampir saja jantungku copot dibuatnya, berdetak lebih
cepat tak seperti biasanya. Tak sabar menanti, nanti malam.
Sepertinya malam ini
akan lebih indah dari hari kemarin saat pertama kali manatap mata dan
senyumnya. Aku berdiri didepan kaca, terlihat sangat girly memakai dress hitam
dengan hiasan pita putih melingkar di pinggang, dan flat shoes berwarna pink.
Terdengar suara mesin mobil yang berhenti didepan rumah, dengan sigap aku langsung
berlari ke arah jendela kamarku, melihat ke arah luar, memastikan apakah itu
dia. Mobil nissan livina x-grear warna abu-abu yang berhenti tepat didepan
rumahku, seseorang memakai baju putih dengan jaket hitam, dan celana jeans
panjang berwarna hitam. Rambutnya ikal, Tubuh tegap tinggi. Ya ternyata dugaan
ku benar, itu dia yang keluar dari dalam mobil. Aku pun langsung berlari
kembali kedepan kaca merapihkan rambut ku agar terlihat lebih rapih dan
memasangkan jepitan sebagai penghias dirambut. Setelah ku rapihkan rambut, aku
mengela nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugup, menenangkan jantung yang
sejak tadi berdetak cepat. Lalu berjalan menuju pintu dan menghampirinya yang
sudah menunggu di ruang tamu dengan air teh yang sudah ada di atas meja.
Di sepanjang jalan
menuju gedung XXI dia menggenggam tangan ku dengan hangat, membuat jantung ini
selalu berdetak lebih cepat, aku tak berhenti tersenyum dan terus memandangi
tangan mu yang menggenggam tanganku dan sesekali menengadahkan kepalaku kesamping
menatap wajahnya lalu menunduk malu saat dia mengetahui aku sedang memandang
wajahnya. Di sepanjang film yang diputar dia terus memegang tangan ku seakan
tak mau lepas dan takut kehilangan. Perasaanku pun berubah yang tadinya dingin
menjadi hangat, dia ubah semuanya menjadi manis dan membahagiakan, bisa
melupakan semua kenangan buruk yang baru saja ku lewati kemarin dan menyadari
bahwa hanya dia yang selalu ada, tak pernah meninggalkan ku walau hatinya
kecewa saat hati ini sudah menjadi milik orang lain, bahkan saat aku terpuruk
dia selalu ada di dekatku.
Senyum ku tak berhenti
berkembang sampai film itu berakhir dan pertemuan kita hari ini juga harus
berakhir, ingin rasanya lebih lama lagi mata ini tetap bisa menatap wajah mu
dari dekat seperti ini. Di sepajang perjalanan pulang, kamu menanyakan tentang
bagaimana perasaan ku hari ini nonton berdua dengannya. Aku menjawab dengan
senyuman malu menandakan aku sangat bahagia hari ini.
#EA
Cinta
tak mengenal jarak
aku mengawali pagi di
hari senin ini menjadi lebih bersemangat, lagi-lagi handphone tak bisa lepas
dari tanganku ini, entah seperti ada magnet yang menempel sangat kuat sampai
tak mau lepas dari tangan dan mataku. Saat pulang sekolah dan sampai dirumah
aku terus melihat handphone ku, sangat sepi tak seperti biasanya selalu
berdering, aku terus melihat ke arah layar handphone. Kenapa tak berdering
sejak jam istirahat berakhir bahkan sampai jam sekolah berakhir dan sekarang
sudah mau menjelang malam. Tak seperti biasanya dia tak memberi kabar, banyak
pertanyaan di pikiranku. Mengapa tak ada kabar? Apa ada yang salah dariku? Atau
dia lagi sibuk? Atau dia mau mulai menjauh dari ku??? Aaaaaahhh terlalu banyak
pertanyaan, membuat raut wajah kegelisahan ku muncul. Aku takut, aku takut akan
merasakan kehilangan, aku takut merasakan kekecewaan. Hanya itu yang aku
takutkan. Saat aku memikirkan semuanya. handphone ku berdering, mataku langsung
menatap cepat ke arah layar handphone, benar itu darinya. Di pesan singkatnya
dia menjelaskan bahwa esok hari ia akan pindah ke luar kota untuk melanjutkan
sekolahnya di perguruan tinggi negri di Yogyakarta, senyum ku yang tadinya
berkembang melihat ada pesan darinya, seketika lenyap dan mataku tiba-tiba
berair. Apa harus aku kehilangan lagi? Aku benci, aku benci perpisahan. Baru
saja kita bertemu setelah lama kita tak pernah menatap wajah masing-masing. Apa
cukup hanya dua hari kita menghabiskan waktu bersama setelah setahun kita tak
pernah bertatap muka dan sekarang harus terpisah lagi, bahkan lebih lama lagi
dari sebelumnya.
“Aku menyesal mengapa
kita tak pernah berani bertemu sejak awal berkenalan?”
“Mengapa saat kita
masih dikota yang sama, bahkan di satu daerah perumahan yang sama kita tak
pernah memanfaatkan untuk bertemu?”
“mengapa rasa ini
terlambat merasakan kesungguhanmu?”
“mengapa kini saat kita
baru bertemu, kita cepat dipisahkan?”
Keesokkan harinya saat
dia berpamitan kepada ku. Aku harap ini hanya mimpi, ini tak nyata.. tapi
berbeda dengan keingginanku. Kita harus berpisah kembali bahkan dengan waktu
yang lebih lama dari sebelumnya. Dengan tangannya yang hangat, dia mengenggam
jemari tangan ku mencoba menenangkan hati ku yang gelisah dan meyakinkanku
bahwa dia akan mengunjungiku setiap satu atau dua kali dalam sebulan, bahkan
saat liburan semester tiba, dia janji langsung pulang menemui ku. Hati ku
sedikit agak lebih tenang mendengarnya. Dia bertanya “tapi apa kamu sanggup
jika harus menjalani long distance relationship” katanya dengan tatapan tajam
kepadaku. “apapun resikonya aku siap, karena cinta tak mengenal jarak, sejauh
apapun jarak yang memisahkan, asalkan saling percaya dan menjaga kepercayaan
masing-masing pasti kita bisa melewatinya”. Jawabku dengan tatapan tajam penuh
keyakinan. Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku dan sedikit mangacak
rambutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar