Senin, 24 Februari 2014

Ini Hanya Sebuah Rasa


INI HANYA SEBUAH RASA
By : Evita Armala


Rasa iba ku berubah menjadi sebuah cinta yang tulus untuk mu. Aku yang awalnya merasa iba melihat luka hati yang kau derita. aku melihatmu seperti manusia yang tergeletak di sebuah ruang hampa sepi, seolah-olah kamu hanya berteman dengan kesepian.  Walau kamu menutupinya dengan senyuman dan wajah tegar yang membentengi rasa takutmu, tapi dibalik benteng yang kau bangun kokoh itu, aku masih  melihat kerapuhanmu. Aku coba menemani disaat kau merasa kesepian dan tertekan, ku ikuti kemana kakimu melangkah agar kau tak lagi merasa sendiri, aku berusaha ada untukmu saat kau merasa butuh agar kau tak lagi merasa sendiri. Kau selalu bercerita kepadaku tentang kelembutan, katangguhan, dan kecantikkan seorang wanita. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, aku melihat sorotan matamu penuh dengan kerinduan, ketulusan, dan kasih sayang yang begitu besar  kepadanya, saat kamu bercerita tentang wanita yang kamu banggakan, aku selalu tersenyum dan kagum dengan  sosok yang kamu ceritakan. Aku merasakan rindu yang begitu besar didirinya, aku tak bisa lakukan apa-apa hanya bisa diam membeku saat kau katakan “aku rindu ibu”.  Ya dia selalu bercerita tentang ibu dan keluarganya, keluarga yang sebenarnya membuatnya rapuh dan alasan dia mempertahankan semangatnya.

Dia sebenarnya tidak dikelilingi kehangatan disebuah keluarga, kehangatan yang sebenarnya hampir padam itu, tapi berusaha dia bangun agar tetap hangat seperti dulu. aku tau dia menginginkan sebuah keluarga yang utuh seperti layaknya sebuah keluarga. Ibunya sudah lama meninggalkannya sejak dia berusia 10 tahun karena sakit, dirumah hanya ada seorang kakak laki-laki, dia, dan ayahnya. kakak dan ayahnya memang selalu tak sepaham. mereka sama-sama keras dan sifatnya sama persis. Dia selalu menjadi penengah jika terjadi konflik diantara anak dan ayah. Walaupun sifat ayah dan kakaknya sama-sama keras, dia selalu membela keduanya dan selalu membanggakan disetiap ceritanya. Walau aku tau ada luka yang aku belum tau pasti penyebabnya.

Hari-hari ku mulai terbiasa  dengan ceritamu, aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu. disaat dia merasa jenuh, yang aku tau, dia akan bercerita kepadaku. Aku mulai merasa nyaman dengan ini, tak hanya dengan cerita yang selalu kau ceritakan, tapi tentang kedekatan kita. Ya kedekatan yang dimulai saat adik sepupuhmu mengenalkan mu pada ku. Perkenalan yang diawali dari sebuah pesan singkat. entah apa tujuan mu menceritakan semuanya kepadaku, tentang keluargamu, bahkan sesekali aku melihat sebuah kekecewaan mu pada mereka.

        Apa kamu merasa nyaman jika menceritakan keluh kesahmu kepadaku?    
        
        Kamu percayakan semua kepadaku dan menceritakan semuanya ?

Tak banyak yang bisa aku lakukan untukmu, aku hanya berusaha setia menemanimu agar kau tidak merasa kesepian lagi, aku akan bantu apa yang bisa ku bantu. Disela kesibukan kuliahmu yang sedang menyusun skripsi aku selipkan sebuah semangat untukmu melalui pesan singkat, bahkan disetiap pertemuan kita. Aku mulai tinggalkan rasa takutku, rasa sakitku yang dulu ada, aku mulai membuka hati, walau luka itu belum sepenuhnya kering.  Perlahan rasa takutku hilang sekarang telah kau ganti dengan kebahagiaan. aku tak pernah merasa takut lagi dengan rasa sakitku karena ada kamu, kita selalu saling menguatkan, itu yang ku suka. Bahkan dia pernah merajut sebuah mimpi, mimpi yang dulu sama-sama kita amini. Impian yang kau bangun yang seolah-olah akan terwujud. Saat kau buat aku nyaman dan melupakan kenangan lalu, harapan yang ku fikir nyata ternyata hanyalah sebuah harapan kosong, seketika dalam sekejap saja semua kamu hancurkan mimpi itu sendiri. Entah apa yang sedang merasuki dirimu saat itu, kamu pergi dan menghilang begitu saja tanpa alasan.

        Aku tak pernah mengerti apa arti kedekatan kita selama 6 bulan terkahir ini apa?

        Harapan yang kamu buat selama ini, apa ini hanyalah harapan kosong yang kau buat?

        Mimpi-mimpi yang kau bangun itu, apakah hanya omong kosong? Apa tak berarti apa-apa untukmu?

        Lalu arti kepercayaan mu menceritakan cerita-cerita itu?

        Apa ada yang salah dengan ucapan atau tindakanku? sehingga kau menghilang begitu tiba-tiba.

Begitu banyak pertanyaan yang belum sempat ku tanyakan padanya, begitu banyak yang harus dijelaskannya pada ku. Sungguh aku hampir gila dengan semua pertanyaan yang belum terjawab, dan teka-teki yang sulit aku pecahkan sendiri. Andai saja kamu bisa menjelaskan semua pertanyaanku dan menjelaskannya “mengapa kamu pergi begitu saja, bahkan kini ku tau, kamu lebih kamu memilih menjalani semua impianmu dengan perempuan lain bukan dengan ku?”.  


#EA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar