INI
HANYA SEBUAH RASA
By : Evita Armala
Rasa iba ku berubah
menjadi sebuah cinta yang tulus untuk mu. Aku yang awalnya merasa iba melihat
luka hati yang kau derita. aku melihatmu seperti manusia yang tergeletak di
sebuah ruang hampa sepi, seolah-olah kamu hanya berteman dengan kesepian. Walau kamu menutupinya dengan senyuman dan
wajah tegar yang membentengi rasa takutmu, tapi dibalik benteng yang kau bangun
kokoh itu, aku masih melihat
kerapuhanmu. Aku coba menemani disaat kau merasa kesepian dan tertekan, ku
ikuti kemana kakimu melangkah agar kau tak lagi merasa sendiri, aku berusaha
ada untukmu saat kau merasa butuh agar kau tak lagi merasa sendiri. Kau selalu
bercerita kepadaku tentang kelembutan, katangguhan, dan kecantikkan seorang wanita.
Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, aku melihat sorotan matamu penuh
dengan kerinduan, ketulusan, dan kasih sayang yang begitu besar kepadanya, saat kamu bercerita tentang wanita yang
kamu banggakan, aku selalu tersenyum dan kagum dengan sosok yang kamu ceritakan. Aku merasakan
rindu yang begitu besar didirinya, aku tak bisa lakukan apa-apa hanya bisa diam
membeku saat kau katakan “aku rindu ibu”.
Ya dia selalu bercerita tentang ibu dan keluarganya, keluarga yang
sebenarnya membuatnya rapuh dan alasan dia mempertahankan semangatnya.
Dia sebenarnya tidak
dikelilingi kehangatan disebuah keluarga, kehangatan yang sebenarnya hampir
padam itu, tapi berusaha dia bangun agar tetap hangat seperti dulu. aku tau dia
menginginkan sebuah keluarga yang utuh seperti layaknya sebuah keluarga. Ibunya
sudah lama meninggalkannya sejak dia berusia 10 tahun karena sakit, dirumah
hanya ada seorang kakak laki-laki, dia, dan ayahnya. kakak dan ayahnya memang
selalu tak sepaham. mereka sama-sama keras dan sifatnya sama persis. Dia selalu
menjadi penengah jika terjadi konflik diantara anak dan ayah. Walaupun sifat
ayah dan kakaknya sama-sama keras, dia selalu membela keduanya dan selalu
membanggakan disetiap ceritanya. Walau aku tau ada luka yang aku belum tau
pasti penyebabnya.
Hari-hari ku mulai
terbiasa dengan ceritamu, aku selalu
berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu. disaat dia merasa jenuh, yang aku
tau, dia akan bercerita kepadaku. Aku mulai merasa nyaman dengan ini, tak hanya
dengan cerita yang selalu kau ceritakan, tapi tentang kedekatan kita. Ya
kedekatan yang dimulai saat adik sepupuhmu mengenalkan mu pada ku. Perkenalan
yang diawali dari sebuah pesan singkat. entah apa tujuan mu menceritakan
semuanya kepadaku, tentang keluargamu, bahkan sesekali aku melihat sebuah
kekecewaan mu pada mereka.
Apa kamu merasa nyaman
jika menceritakan keluh kesahmu kepadaku?
Kamu percayakan semua
kepadaku dan menceritakan semuanya ?
Tak banyak yang bisa
aku lakukan untukmu, aku hanya berusaha setia menemanimu agar kau tidak merasa
kesepian lagi, aku akan bantu apa yang bisa ku bantu. Disela kesibukan kuliahmu
yang sedang menyusun skripsi aku selipkan sebuah semangat untukmu melalui pesan
singkat, bahkan disetiap pertemuan kita. Aku mulai tinggalkan rasa takutku,
rasa sakitku yang dulu ada, aku mulai membuka hati, walau luka itu belum
sepenuhnya kering. Perlahan rasa takutku
hilang sekarang telah kau ganti dengan kebahagiaan. aku tak pernah merasa takut lagi
dengan rasa sakitku karena ada kamu, kita selalu saling menguatkan, itu yang ku
suka. Bahkan dia pernah merajut sebuah mimpi,
mimpi yang dulu sama-sama kita amini. Impian yang kau bangun yang seolah-olah
akan terwujud. Saat kau buat aku nyaman dan melupakan kenangan lalu, harapan
yang ku fikir nyata ternyata hanyalah sebuah harapan kosong, seketika dalam
sekejap saja semua kamu hancurkan mimpi itu sendiri. Entah apa yang sedang
merasuki dirimu saat itu, kamu pergi dan menghilang begitu saja tanpa alasan.
Aku
tak pernah mengerti apa arti kedekatan kita selama 6 bulan terkahir ini apa?
Harapan
yang kamu buat selama ini, apa ini hanyalah harapan kosong yang kau buat?
Mimpi-mimpi
yang kau bangun itu, apakah hanya omong kosong? Apa tak berarti apa-apa
untukmu?
Lalu
arti kepercayaan mu menceritakan cerita-cerita itu?
Apa
ada yang salah dengan ucapan atau tindakanku? sehingga kau menghilang begitu tiba-tiba.
Begitu
banyak pertanyaan yang belum sempat ku tanyakan padanya, begitu banyak yang
harus dijelaskannya pada ku. Sungguh aku hampir gila dengan semua pertanyaan
yang belum terjawab, dan teka-teki yang sulit aku pecahkan sendiri. Andai saja
kamu bisa menjelaskan semua pertanyaanku dan menjelaskannya “mengapa kamu pergi
begitu saja, bahkan kini ku tau, kamu lebih kamu memilih menjalani semua impianmu dengan
perempuan lain bukan dengan ku?”.
#EA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar