By : Evita Armala
Aku melihatnya dari
kejauhan, dia selalu sibuk mencari-cari dan mengais cinta, mencari wanita yang
lebih baik dan terus mencari sosok yang lebih baik itu. menjalin cinta dengan
wanita pertama. Karena wanita itu juga, kamu hempaskan aku begitu saja, sampai
aku jatuh kesakitan. Hanya dalam waktu 6 bulan, kau buat semuanya begitu indah.
tapi dalam 6 bulan kau hanya butuh waktu satu hari dalam melenyapkan semuanya,
kau hempaskan semuanya dengan mudah. sahabatku tentu sangat membenci ini,
melihat sahabatnya dibuat seolah-olah diajak melayang disebuah impian yang
nyata lalu setelah berada di langit yang tertinggi, dengan se-enaknya dia
hempaskan begitu saja. Air mataku terus mengalir, emosi ku pecah saat itu juga,
saat menyadari bahwa semua ini hanyalah harapan kosong yang dibuatnya, aku tak
pernah sekecewa ini kepada seseorang. kamu orang yang pertama yang membuatku
benar-benar seperti orang bodoh yang kehilangan akal, kau ubah semua seperti
sihir, sihir yang benar-benar kuat meracuni pikiran ku dan seakan aku terhanyut
oleh sihir yang dibuat oleh mu.
#EA
Setelah kau hempas kan
aku dari langit yang tertinggi, kau pergi tanpa satu kata “MAAF” yang terucap
dari mulutmu. Ya, kata yang sederhana yang sulit kau ucapkan padaku. Aku hanya
ingin kau ucapkan satu kata yaitu “MAAF” hanya kata sederhana itu yang aku
ingin kan, hanya untuk sekedar membasuh luka ini. Tapi jangan kan kata “MAAF” dengan
tanpa merasa bersalah dan tanpa melihat luka yang telah kau tancapkan dihati
ini. Kau seolah-olah tertawa diatas luka ku, kamu seakan bahagia bersamanya. Tak
hanya sampai disitu, kau tetap mengoreskan luka ini dengan tulisan-tulisan
manis untuknya yang selalu muncul di time line. Sedikit saja kau hargai
perasaan ku saat itu, dengan sedikit menjaga sikap mu. Tapi apa pedulimu
terhadap ku, aku tak berhak marah, aku tak berhak protes dengan sikap manismu
terhadapnya. Aku bukan siapa-siapa bagimu, aku hanyalah orang tak penting di
hidupmu yang berhasil kau tipu dayakan.
#EA
Bodohnya, aku masih
saja memantau mu dari kejauhan. Ada yang aneh dengan hari ini, sudah tak ada
lagi kata-kata manismu disini untuknya. Ternyata kau tak lagi bersama wanita
pertama itu, aku dengar dari sahabat ku, kau tak lagi bersamanya karena ada
orang ketiga yang ternyata lebih baik darimu. Aku mulai berfikir apa itu karma,
tapi aku coba singkirkan prasangka buruk itu, itu bukan karma, dia hanya
memilih orang yang tak tepat.
#EA
Aku masih disini
melihatmu dari kejauhan, aku salut dengan kegigihanmu, kau tak pernah menyerah
untuk mencari cinta yang lebih baik lagi dari wanita pertama. Tak seperti aku,
aku seperti manusia yang takut akan cinta. Yang aku takut hanyalah sakit yang
akan ditimbulkan lagi oleh cinta. Tapi dengan kegigihanmu, ternyata tak butuh
waktu lama untuk kamu mendapatkan penggantinya (wanita pertama), hanya perlu
waktu 2 minggu setelah putus, kau menjalani hubungan dengan wanita kedua, ya
mungkin ini lebih baik dari sebelumnya. Tapi entah ada sihir apa yang merasuki
ku, aku tak merasakan kekecewaan atau merasakan sebuah kesakitan lagi. pikiran
ku begitu tenang dan hati ini pun tak merasakan apa-apa setelah tau kau sudah
menjalin dengan wanita kedua mu itu, bahkan dengan sikap manismu kepadanya dan
foto-foto mesra kau dengannya. aku merasa aneh, apa rasa sakitku mulai hilang? Atau
karena kemarin aku merasakan begitu sakitnya luka yang kau buat, aku jadi sampai
tak tau lagi apa rasa sakit itu?. Ku mohon jangan ingatkan aku tentang arti
sakit hati, karena ku fikir itu lebih baik dari pada aku paham apa dan
bagaimana rasa sakit hati itu.
#EA
Aku fikir rasa kepadamu
sudah benar-benar hilang, tapi hati ku tak sejalan dengan yang aku fikirkan,
hati ini sesekali merasakan sakit itu jika aku mulai mengingat kenangan buruk
itu, walaupun tak sesering dulu tapi ingatan buruk itu cukup menganggu ku. Aku disini
sesekali masih melihatmu dari kejauhan, lagi-lagi aku melihatmu putus dengan
wanita kedua mu itu, kali ini entah apa penyebabnya. Aku mulai sedikit tak
peduli apa penyebab kau putus dengannya. Tapi dari status yang kau buat hingga
memenuhi time line ku, mau tak mau, aku melihat dan membacanya, kau sepertinya
begitu galau dan dilema. Fikiran buruk tentangmu pun muncul kembali, dan
berfikir kembali bahwa itu adalah karma. Sahabatku pun sependapat dengan ku, tapi
aku coba hapus fikiran buruk ku bahwa itu bukan karma melainkan peringatan
untuknya.
#EA
Sudah lumayan lama aku
tak pernah melihat dia, aku baru saja membuka akun ini kembali. Tak sengaja aku
melihat dia sudah bersama wanita ketiga, kini aku benar-benar yakin bahwa hal
buruk yang menimpamu kemarin itu bukanlah sebuah karma melainkan sebuah
peringatan. Karena buktinya, kamu cepat mendapat penggatinya lagi, bahkan
sekarang ku lihat wanita ketiga ini lebih baik dari sebelumnya. Ya.. aku turut
bahagia dengan kebahagianmu sekarang, kamu lebih sering mengingat sang
pencipta. Walaupun bahagiamu sekarang bukan dengan ku, melainkan dengan orang
lain. Jika aku lihat wanita yang kini bersamamu, mengingatkan ku, dengan
kebersamaan kita dulu yang indah. Aku yang dulu biasanya mengingatkanmu untuk
beribadah, sekarang ada penggantinya bahkan jauh... lebih baik. Hati ku kini
bisa berdamai dengan keadaanku sekarang. entahlah, aku merasa lebih tenang
melihat kamu bersamanya. Aku mulai meninggalkan dunia mu, walau tak sepenuhnya
aku tinggalkan. tapi hubunganmu tak berlangsung lama, tak seperti yang aku
fikirkan, penilaianku salah terhadap wanita ketiga itu, walau aku tak tau
penyebabnya apa hubungan mereka berakhir, tapi aku melihat ada sebuah kekecewaan
disana.
#EA
Mungkin jika mereka
melihat ini, mungkin mereka berfikir itu adalah karma.
“Ya,
kata mereka itu karma untuknya, tapi buat ku
itu bukan karma melainkan sebuah pelajaran untuknya untuk tau rasa sakit yg
dulu pernah ia goreskan padaku. Bahwa hati bukan untuk dipermainkan
melainkan untuk disayangi bukan untuk disakiti”
Aku kini mulai menatap
lagi masa depan, senag rasanya bisa menghirup udara yang segar dipagi hari, ya
aku seperti baru saja bebas dari penjara yang ku buat sendiri, hari ku tak lagi
dihantui olehnya. Walaupun hanya kata “MAAF” yang aku ingin dengar dari
mulutmu, tapi sekarang aku sudah memaafkan kamu, tanpa kamu mengatakan kata “maaf”.
Walaupun aku tau kata itu tak akan pernah keluar dari mulutmu.
Sekarang aku lebih
memilih menyimpan hati ini untuk calon imam ku nanti dan terus memperbaiki
diri, sehingga nantinya aku pantas menjadi sosok pendamping yang baik untuk seseorang yang baik juga. Seseorang yang masih
dirahasiakan, tentunya telah tuhan tuliskan untukku.