Selasa, 25 Februari 2014

Bukan karma melainkan sebuah pelajaran


By : Evita Armala

Aku melihatnya dari kejauhan, dia selalu sibuk mencari-cari dan mengais cinta, mencari wanita yang lebih baik dan terus mencari sosok yang lebih baik itu. menjalin cinta dengan wanita pertama. Karena wanita itu juga, kamu hempaskan aku begitu saja, sampai aku jatuh kesakitan. Hanya dalam waktu 6 bulan, kau buat semuanya begitu indah. tapi dalam 6 bulan kau hanya butuh waktu satu hari dalam melenyapkan semuanya, kau hempaskan semuanya dengan mudah. sahabatku tentu sangat membenci ini, melihat sahabatnya dibuat seolah-olah diajak melayang disebuah impian yang nyata lalu setelah berada di langit yang tertinggi, dengan se-enaknya dia hempaskan begitu saja. Air mataku terus mengalir, emosi ku pecah saat itu juga, saat menyadari bahwa semua ini hanyalah harapan kosong yang dibuatnya, aku tak pernah sekecewa ini kepada seseorang. kamu orang yang pertama yang membuatku benar-benar seperti orang bodoh yang kehilangan akal, kau ubah semua seperti sihir, sihir yang benar-benar kuat meracuni pikiran ku dan seakan aku terhanyut oleh sihir yang dibuat oleh mu.  

#EA

Setelah kau hempas kan aku dari langit yang tertinggi, kau pergi tanpa satu kata “MAAF” yang terucap dari mulutmu. Ya, kata yang sederhana yang sulit kau ucapkan padaku. Aku hanya ingin kau ucapkan satu kata yaitu “MAAF” hanya kata sederhana itu yang aku ingin kan, hanya untuk sekedar membasuh luka ini. Tapi jangan kan kata “MAAF” dengan tanpa merasa bersalah dan tanpa melihat luka yang telah kau tancapkan dihati ini. Kau seolah-olah tertawa diatas luka ku, kamu seakan bahagia bersamanya. Tak hanya sampai disitu, kau tetap mengoreskan luka ini dengan tulisan-tulisan manis untuknya yang selalu muncul di time line. Sedikit saja kau hargai perasaan ku saat itu, dengan sedikit menjaga sikap mu. Tapi apa pedulimu terhadap ku, aku tak berhak marah, aku tak berhak protes dengan sikap manismu terhadapnya. Aku bukan siapa-siapa bagimu, aku hanyalah orang tak penting di hidupmu yang berhasil kau tipu dayakan.

#EA

Bodohnya, aku masih saja memantau mu dari kejauhan. Ada yang aneh dengan hari ini, sudah tak ada lagi kata-kata manismu disini untuknya. Ternyata kau tak lagi bersama wanita pertama itu, aku dengar dari sahabat ku, kau tak lagi bersamanya karena ada orang ketiga yang ternyata lebih baik darimu. Aku mulai berfikir apa itu karma, tapi aku coba singkirkan prasangka buruk itu, itu bukan karma, dia hanya memilih orang yang tak tepat.

#EA

Aku masih disini melihatmu dari kejauhan, aku salut dengan kegigihanmu, kau tak pernah menyerah untuk mencari cinta yang lebih baik lagi dari wanita pertama. Tak seperti aku, aku seperti manusia yang takut akan cinta. Yang aku takut hanyalah sakit yang akan ditimbulkan lagi oleh cinta. Tapi dengan kegigihanmu, ternyata tak butuh waktu lama untuk kamu mendapatkan penggantinya (wanita pertama), hanya perlu waktu 2 minggu setelah putus, kau menjalani hubungan dengan wanita kedua, ya mungkin ini lebih baik dari sebelumnya. Tapi entah ada sihir apa yang merasuki ku, aku tak merasakan kekecewaan atau merasakan sebuah kesakitan lagi. pikiran ku begitu tenang dan hati ini pun tak merasakan apa-apa setelah tau kau sudah menjalin dengan wanita kedua mu itu, bahkan dengan sikap manismu kepadanya dan foto-foto mesra kau dengannya. aku merasa aneh, apa rasa sakitku mulai hilang? Atau karena kemarin aku merasakan begitu sakitnya luka yang kau buat, aku jadi sampai tak tau lagi apa rasa sakit itu?. Ku mohon jangan ingatkan aku tentang arti sakit hati, karena ku fikir itu lebih baik dari pada aku paham apa dan bagaimana rasa sakit hati itu.

#EA

Aku fikir rasa kepadamu sudah benar-benar hilang, tapi hati ku tak sejalan dengan yang aku fikirkan, hati ini sesekali merasakan sakit itu jika aku mulai mengingat kenangan buruk itu, walaupun tak sesering dulu tapi ingatan buruk itu cukup menganggu ku. Aku disini sesekali masih melihatmu dari kejauhan, lagi-lagi aku melihatmu putus dengan wanita kedua mu itu, kali ini entah apa penyebabnya. Aku mulai sedikit tak peduli apa penyebab kau putus dengannya. Tapi dari status yang kau buat hingga memenuhi time line ku, mau tak mau, aku melihat dan membacanya, kau sepertinya begitu galau dan dilema. Fikiran buruk tentangmu pun muncul kembali, dan berfikir kembali bahwa itu adalah karma. Sahabatku pun sependapat dengan ku, tapi aku coba hapus fikiran buruk ku bahwa itu bukan karma melainkan peringatan untuknya.

#EA

Sudah lumayan lama aku tak pernah melihat dia, aku baru saja membuka akun ini kembali. Tak sengaja aku melihat dia sudah bersama wanita ketiga, kini aku benar-benar yakin bahwa hal buruk yang menimpamu kemarin itu bukanlah sebuah karma melainkan sebuah peringatan. Karena buktinya, kamu cepat mendapat penggatinya lagi, bahkan sekarang ku lihat wanita ketiga ini lebih baik dari sebelumnya. Ya.. aku turut bahagia dengan kebahagianmu sekarang, kamu lebih sering mengingat sang pencipta. Walaupun bahagiamu sekarang bukan dengan ku, melainkan dengan orang lain. Jika aku lihat wanita yang kini bersamamu, mengingatkan ku, dengan kebersamaan kita dulu yang indah. Aku yang dulu biasanya mengingatkanmu untuk beribadah, sekarang ada penggantinya bahkan jauh... lebih baik. Hati ku kini bisa berdamai dengan keadaanku sekarang. entahlah, aku merasa lebih tenang melihat kamu bersamanya. Aku mulai meninggalkan dunia mu, walau tak sepenuhnya aku tinggalkan. tapi hubunganmu tak berlangsung lama, tak seperti yang aku fikirkan, penilaianku salah terhadap wanita ketiga itu, walau aku tak tau penyebabnya apa hubungan mereka berakhir, tapi aku melihat ada sebuah kekecewaan disana.

#EA

Mungkin jika mereka melihat ini, mungkin mereka berfikir itu adalah karma.

“Ya, kata mereka itu karma untuknya, tapi buat ku itu bukan karma melainkan sebuah pelajaran untuknya untuk tau rasa sakit yg dulu pernah ia goreskan padaku. Bahwa hati bukan untuk dipermainkan melainkan untuk disayangi bukan untuk disakiti”

Aku kini mulai menatap lagi masa depan, senag rasanya bisa menghirup udara yang segar dipagi hari, ya aku seperti baru saja bebas dari penjara yang ku buat sendiri, hari ku tak lagi dihantui olehnya. Walaupun hanya kata “MAAF” yang aku ingin dengar dari mulutmu, tapi sekarang aku sudah memaafkan kamu, tanpa kamu mengatakan kata “maaf”. Walaupun aku tau kata itu tak akan pernah keluar dari mulutmu.

Sekarang aku lebih memilih menyimpan hati ini untuk calon imam ku nanti dan terus memperbaiki diri, sehingga nantinya aku pantas menjadi sosok pendamping yang baik untuk  seseorang yang baik juga. Seseorang yang masih dirahasiakan, tentunya telah tuhan tuliskan untukku.

Senin, 24 Februari 2014

Ini Hanya Sebuah Rasa


INI HANYA SEBUAH RASA
By : Evita Armala


Rasa iba ku berubah menjadi sebuah cinta yang tulus untuk mu. Aku yang awalnya merasa iba melihat luka hati yang kau derita. aku melihatmu seperti manusia yang tergeletak di sebuah ruang hampa sepi, seolah-olah kamu hanya berteman dengan kesepian.  Walau kamu menutupinya dengan senyuman dan wajah tegar yang membentengi rasa takutmu, tapi dibalik benteng yang kau bangun kokoh itu, aku masih  melihat kerapuhanmu. Aku coba menemani disaat kau merasa kesepian dan tertekan, ku ikuti kemana kakimu melangkah agar kau tak lagi merasa sendiri, aku berusaha ada untukmu saat kau merasa butuh agar kau tak lagi merasa sendiri. Kau selalu bercerita kepadaku tentang kelembutan, katangguhan, dan kecantikkan seorang wanita. Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, aku melihat sorotan matamu penuh dengan kerinduan, ketulusan, dan kasih sayang yang begitu besar  kepadanya, saat kamu bercerita tentang wanita yang kamu banggakan, aku selalu tersenyum dan kagum dengan  sosok yang kamu ceritakan. Aku merasakan rindu yang begitu besar didirinya, aku tak bisa lakukan apa-apa hanya bisa diam membeku saat kau katakan “aku rindu ibu”.  Ya dia selalu bercerita tentang ibu dan keluarganya, keluarga yang sebenarnya membuatnya rapuh dan alasan dia mempertahankan semangatnya.

Dia sebenarnya tidak dikelilingi kehangatan disebuah keluarga, kehangatan yang sebenarnya hampir padam itu, tapi berusaha dia bangun agar tetap hangat seperti dulu. aku tau dia menginginkan sebuah keluarga yang utuh seperti layaknya sebuah keluarga. Ibunya sudah lama meninggalkannya sejak dia berusia 10 tahun karena sakit, dirumah hanya ada seorang kakak laki-laki, dia, dan ayahnya. kakak dan ayahnya memang selalu tak sepaham. mereka sama-sama keras dan sifatnya sama persis. Dia selalu menjadi penengah jika terjadi konflik diantara anak dan ayah. Walaupun sifat ayah dan kakaknya sama-sama keras, dia selalu membela keduanya dan selalu membanggakan disetiap ceritanya. Walau aku tau ada luka yang aku belum tau pasti penyebabnya.

Hari-hari ku mulai terbiasa  dengan ceritamu, aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu. disaat dia merasa jenuh, yang aku tau, dia akan bercerita kepadaku. Aku mulai merasa nyaman dengan ini, tak hanya dengan cerita yang selalu kau ceritakan, tapi tentang kedekatan kita. Ya kedekatan yang dimulai saat adik sepupuhmu mengenalkan mu pada ku. Perkenalan yang diawali dari sebuah pesan singkat. entah apa tujuan mu menceritakan semuanya kepadaku, tentang keluargamu, bahkan sesekali aku melihat sebuah kekecewaan mu pada mereka.

        Apa kamu merasa nyaman jika menceritakan keluh kesahmu kepadaku?    
        
        Kamu percayakan semua kepadaku dan menceritakan semuanya ?

Tak banyak yang bisa aku lakukan untukmu, aku hanya berusaha setia menemanimu agar kau tidak merasa kesepian lagi, aku akan bantu apa yang bisa ku bantu. Disela kesibukan kuliahmu yang sedang menyusun skripsi aku selipkan sebuah semangat untukmu melalui pesan singkat, bahkan disetiap pertemuan kita. Aku mulai tinggalkan rasa takutku, rasa sakitku yang dulu ada, aku mulai membuka hati, walau luka itu belum sepenuhnya kering.  Perlahan rasa takutku hilang sekarang telah kau ganti dengan kebahagiaan. aku tak pernah merasa takut lagi dengan rasa sakitku karena ada kamu, kita selalu saling menguatkan, itu yang ku suka. Bahkan dia pernah merajut sebuah mimpi, mimpi yang dulu sama-sama kita amini. Impian yang kau bangun yang seolah-olah akan terwujud. Saat kau buat aku nyaman dan melupakan kenangan lalu, harapan yang ku fikir nyata ternyata hanyalah sebuah harapan kosong, seketika dalam sekejap saja semua kamu hancurkan mimpi itu sendiri. Entah apa yang sedang merasuki dirimu saat itu, kamu pergi dan menghilang begitu saja tanpa alasan.

        Aku tak pernah mengerti apa arti kedekatan kita selama 6 bulan terkahir ini apa?

        Harapan yang kamu buat selama ini, apa ini hanyalah harapan kosong yang kau buat?

        Mimpi-mimpi yang kau bangun itu, apakah hanya omong kosong? Apa tak berarti apa-apa untukmu?

        Lalu arti kepercayaan mu menceritakan cerita-cerita itu?

        Apa ada yang salah dengan ucapan atau tindakanku? sehingga kau menghilang begitu tiba-tiba.

Begitu banyak pertanyaan yang belum sempat ku tanyakan padanya, begitu banyak yang harus dijelaskannya pada ku. Sungguh aku hampir gila dengan semua pertanyaan yang belum terjawab, dan teka-teki yang sulit aku pecahkan sendiri. Andai saja kamu bisa menjelaskan semua pertanyaanku dan menjelaskannya “mengapa kamu pergi begitu saja, bahkan kini ku tau, kamu lebih kamu memilih menjalani semua impianmu dengan perempuan lain bukan dengan ku?”.  


#EA

Rasa yang tak pernah hilang

Rasa yang tak pernah hilang
By : Evita Armala

Perkenalan tanpa bertatap muka

Perkenalan kita tanpa bertatap muka, berawal dari perkenalan pesan singkat melalui handphone, terkejut saat pertama kali menerima pesan singkat mu yang tiba tiba muncul, yang mendapat nomer handphone ku dari teman sekelasmu yang ku kenal. Marah, jengkel.. mengapa nomer handphone ku tersebar tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku. Tapi setelah mendengar penjelasan mu aku coba redam rasa jengkel yang sedang menghinggap di pikiranku, kau hanya ingin mengenal ku, ya.. hanya sekedar ingin mengenal tak lebih. Satu hari berjalannya waktu, dua hari, seminggu dia selalu menemaniku melalui pesan singkat tanpa bertatap muka. Tak terasa perkenalan kita sudah berjalan selama sebulan, tanpa aku sadar kita belum pernah bertatap muka. Aku merasa nyaman dengan kedekatan kita, tanpa merasa risih walau tanpa status, bahkan belum pernah bertatap muka.
Aku memang saat ini tidak merasa risih, karena aku sudah mempunyai seseorang. tapi seiring berjalannya waktu, aku tau dia merasa gelisah. Pertanyaan yang aku tunggu-tunggu pun keluar dari pesan singkatnya, menanyakan “sebenernya kamu udah punya pacar apa belum sih, selama kita deket apa engga ngerasa risih tanpa status gini ?”.  Melaui pesan singkat itu aku mejelaskan semuanya tanpa satupun yang ditutup-tutupi, lega rasanya sudah mengatakan yang sebenarnya, tanpa ada kesalah pahaman lagi diantara aku dan dia. Setelah penjelasan pesan singkat itu, tak mempengaruhi perkanalan dan pertemanan kita.
Ajaran baru tiba, aku naik ke kelas 3 sedangkan dia ingin malanjutkan ke perguruan tinggi. Tak terasa sudah setahun perkenalan kita yang hanya melalui pesan singkat tanpa bertatap muka, aku tak lagi bersama seseorang itu, karena alasan yang tak jelas. Seperti biasa kamu menyapa ku di pagi hari melalui pesan singkat yang manis, mambuatku lupa akan kesedihan yang sedang menghantuiku dan merubah pagi ku menjadi lebih bersemangat menjalani aktivitas disekolah dengan senyum yang berkembang di bibir ku. Kamu pun sepertinya sangat bersemangat, jika membaca dari pesan singkatmu. entah karena mendengar kabar aku tak lagi bersamanya atau hal lain, yang pasti dia tak seperti biasanya.

#EA


Pertemuan kita yang pertama setelah setahun kenal tanpa bertatap muka

Seperti biasa setiap hari, setiap waktu kita habiskan waktu bersama melui pesan singkat. Waktu itu pun tiba, dimana selama setahun kita mengenal satu sama lain tapi tak pernah bertatap muka.  saat kamu mengajakku untuk bertatap muka, bertemu di sebuah taman di sekitar perumahan.
Aku berdiri di sebuah taman, menuggu seseorang yang ku kenal sudah lama, tapi tak pernah ku temui. Aku menuggu dengan gelisah seperti apa wajah orang itu. rasa rindu, rasa penasaran, rasa gelisah semua bercampur aduk menjadi satu, entah apa yang akan aku katakan nanti saat sudah bertemu. Aku menatap ke langit-langit dan sesekali melihat orang-orang yang sedang bermain skateboard, berdiri lalu duduk di bangku taman menunggu dengan gugup. Mencari-cari menatap satu persatu orang yang berlalu-lalang di taman. Sesekali pandangan mata ku kebawah, langkahku pun berhenti ketika ada seseorang yang menepuk bahu ku, aku berbalik dan menengadahkan kepala ku perlahan. Seseorang yang memakai kaos merah dengan jaket biru, dan celana jeans panjang berwarna hitam.   Rambutnya ikal, bentuk hidungnya mancung, Tubuh tegap tinggi hampir saja leher ini copot karena manatap wajahnya, aku hanya setinggi bahu orang itu. Tangan hangatnya menggenggam jemari ku. “sudah lama ya ? maaf sudah menunggu lama” katanya dengan suara lembut dan senyum yang manis, seketika saja hati ini langsung meleleh melihat senyum sempurna yang berkembang dibibirnya. Menambah kesempurnaan yang tuhan ciptakan. Akupun menjawab pertanyaannya dengan senyum tersipu malu. Kita menghabiskan waktu bersama di taman itu berjam-jam dengan cerita, hal seru dan candaan konyol yang membuat senyum ku terus berkembang dibibir. Seakan waktu terhenti dan aku berharap hari ini tak cepat berakhir.
Waktu terus berjalan, dan aku benci jika melihat jam di handphone ku, yang memang mengharuskan pertemuan kita di hari itu berakhir. Tapi, semoga tak hanya hari ini aku bisa manatap wajahmu dan bisa bercerita banyak secara langsung kepadamu seperti hari ini, tak hanya melalui pesan singkat seperti biasanya. Aku sampai di depan pintu rumah dan memegang gagang pintu, handphone ku berdering nada pesan masuk. Aku tak sabar membaca pesan itu, dengan penasaran aku buru-buru membuka tas dan mengambil handphone di dalam tas. Ternyata dari dia yang baru saja aku temui, senyum ku pecah saat itu, aku bahagia sampai loncat kegirangan di depan pintu saat membaca pesan singkat darinya, bahwa ia mengajakku nonton besok malam. Aku masuk rumah dengan senyum lebar dan merah dipipi, berjalan melawati ruang tamu begitu saja, tanpa melihat dan menyapa mamah, papah, adik, dan kakakku yang sedang bersendau gurau di ruang tamu. Mereka melihat dengan tatapan yang heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi ? aku hanya membalas dengan senyuman yang manis. Lalu berjalan cepat menuju kamar ku,  ingin cepat-cepat tidur rasanya, mimpi indah dan tak sabar menunggu besok malam.

Aku sengaja bangun pagi-pagi walaupun aku tau hari ini hari libur, dan seperti biasa aku terus memengang handphone ku sejak tadi dan membalas pesan singkat darinya. dia Menanyakan “nanti malam aku jemput ya dirumah?” isi pesan darinya. Lagi-lagi aku loncat kegirangan, hampir saja jantungku copot dibuatnya, berdetak lebih cepat tak seperti biasanya. Tak sabar menanti, nanti malam.
Sepertinya malam ini akan lebih indah dari hari kemarin saat pertama kali manatap mata dan senyumnya. Aku berdiri didepan kaca, terlihat sangat girly memakai dress hitam dengan hiasan pita putih melingkar di pinggang, dan flat shoes berwarna pink. Terdengar suara mesin mobil yang berhenti didepan rumah, dengan sigap aku langsung berlari ke arah jendela kamarku, melihat ke arah luar, memastikan apakah itu dia. Mobil nissan livina x-grear warna abu-abu yang berhenti tepat didepan rumahku, seseorang memakai baju putih dengan jaket hitam, dan celana jeans panjang berwarna hitam. Rambutnya ikal, Tubuh tegap tinggi. Ya ternyata dugaan ku benar, itu dia yang keluar dari dalam mobil. Aku pun langsung berlari kembali kedepan kaca merapihkan rambut ku agar terlihat lebih rapih dan memasangkan jepitan sebagai penghias dirambut. Setelah ku rapihkan rambut, aku mengela nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugup, menenangkan jantung yang sejak tadi berdetak cepat. Lalu berjalan menuju pintu dan menghampirinya yang sudah menunggu di ruang tamu dengan air teh yang sudah ada di atas meja.
Di sepanjang jalan menuju gedung XXI dia menggenggam tangan ku dengan hangat, membuat jantung ini selalu berdetak lebih cepat, aku tak berhenti tersenyum dan terus memandangi tangan mu yang menggenggam tanganku dan sesekali menengadahkan kepalaku kesamping menatap wajahnya lalu menunduk malu saat dia mengetahui aku sedang memandang wajahnya. Di sepanjang film yang diputar dia terus memegang tangan ku seakan tak mau lepas dan takut kehilangan. Perasaanku pun berubah yang tadinya dingin menjadi hangat, dia ubah semuanya menjadi manis dan membahagiakan, bisa melupakan semua kenangan buruk yang baru saja ku lewati kemarin dan menyadari bahwa hanya dia yang selalu ada, tak pernah meninggalkan ku walau hatinya kecewa saat hati ini sudah menjadi milik orang lain, bahkan saat aku terpuruk dia selalu ada di dekatku.
Senyum ku tak berhenti berkembang sampai film itu berakhir dan pertemuan kita hari ini juga harus berakhir, ingin rasanya lebih lama lagi mata ini tetap bisa menatap wajah mu dari dekat seperti ini. Di sepajang perjalanan pulang, kamu menanyakan tentang bagaimana perasaan ku hari ini nonton berdua dengannya. Aku menjawab dengan senyuman malu menandakan aku sangat bahagia hari ini.

#EA


Cinta tak mengenal jarak

aku mengawali pagi di hari senin ini menjadi lebih bersemangat, lagi-lagi handphone tak bisa lepas dari tanganku ini, entah seperti ada magnet yang menempel sangat kuat sampai tak mau lepas dari tangan dan mataku. Saat pulang sekolah dan sampai dirumah aku terus melihat handphone ku, sangat sepi tak seperti biasanya selalu berdering, aku terus melihat ke arah layar handphone. Kenapa tak berdering sejak jam istirahat berakhir bahkan sampai jam sekolah berakhir dan sekarang sudah mau menjelang malam. Tak seperti biasanya dia tak memberi kabar, banyak pertanyaan di pikiranku. Mengapa tak ada kabar? Apa ada yang salah dariku? Atau dia lagi sibuk? Atau dia mau mulai menjauh dari ku??? Aaaaaahhh terlalu banyak pertanyaan, membuat raut wajah kegelisahan ku muncul. Aku takut, aku takut akan merasakan kehilangan, aku takut merasakan kekecewaan. Hanya itu yang aku takutkan. Saat aku memikirkan semuanya. handphone ku berdering, mataku langsung menatap cepat ke arah layar handphone, benar itu darinya. Di pesan singkatnya dia menjelaskan bahwa esok hari ia akan pindah ke luar kota untuk melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi negri di Yogyakarta, senyum ku yang tadinya berkembang melihat ada pesan darinya, seketika lenyap dan mataku tiba-tiba berair. Apa harus aku kehilangan lagi? Aku benci, aku benci perpisahan. Baru saja kita bertemu setelah lama kita tak pernah menatap wajah masing-masing. Apa cukup hanya dua hari kita menghabiskan waktu bersama setelah setahun kita tak pernah bertatap muka dan sekarang harus terpisah lagi, bahkan lebih lama lagi dari sebelumnya.
“Aku menyesal mengapa kita tak pernah berani bertemu sejak awal berkenalan?”
“Mengapa saat kita masih dikota yang sama, bahkan di satu daerah perumahan yang sama kita tak pernah memanfaatkan untuk bertemu?”
“mengapa rasa ini terlambat merasakan kesungguhanmu?”
“mengapa kini saat kita baru bertemu, kita cepat dipisahkan?”
Keesokkan harinya saat dia berpamitan kepada ku. Aku harap ini hanya mimpi, ini tak nyata.. tapi berbeda dengan keingginanku. Kita harus berpisah kembali bahkan dengan waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Dengan tangannya yang hangat, dia mengenggam jemari tangan ku mencoba menenangkan hati ku yang gelisah dan meyakinkanku bahwa dia akan mengunjungiku setiap satu atau dua kali dalam sebulan, bahkan saat liburan semester tiba, dia janji langsung pulang menemui ku. Hati ku sedikit agak lebih tenang mendengarnya. Dia bertanya “tapi apa kamu sanggup jika harus menjalani long distance relationship” katanya dengan tatapan tajam kepadaku. “apapun resikonya aku siap, karena cinta tak mengenal jarak, sejauh apapun jarak yang memisahkan, asalkan saling percaya dan menjaga kepercayaan masing-masing pasti kita bisa melewatinya”. Jawabku dengan tatapan tajam penuh keyakinan. Dia tersenyum sambil mengelus kepalaku dan sedikit mangacak rambutku.