Cinta
tapi gengsi
By : Evita Armala
Aku sedang duduk disebuah
ruangan bersama teman-teman ku dan beberapa kakak senior dalam satu organisasi, berkumpul sedang
membicarakan tentang kegiatan bakti sosial yang akan diselenggarakan oleh
kampus. Saat ini ada yang benar-benar mengganggu fikiran ku sejak tadi,
membayangkan sebuah ilustrasi yang tak akan pernah terulang kembali.
Saat berjalannya rapat
ini, pandangan ku tak pernah berpaling pada seseorang yang sejak tadi berdiri
di depan menjelaskan rencana apa saja yang akan dilaksanakan pada acara bakti
sosial nanti. sosok mu tak pernah lepas dari mataku, meperhatikan setiap
gerak-gerikmu dan ku dengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Ya...
kamu adalah sosok yang sudah setahun belakangan ini telah mencuri pandanganku.
Aku selalu diam-diam memandangi sosok wajahmu dari kejauhan, aku diam-diam
telah menyimpan sebuah goresan wajahmu di dalam ingatanku dalam setahun ini.
.....
Berawal dari pertemuan
kita disebuah kegiatan bakti sosial tahun lalu di sebuah desa di daerah jawa
barat, kegiatan itu berlangsung selama satu minggu. Dulu sosok mu begitu dekat
dengan ku. karena kegiatan bakti sosial tahun lalu, kita menjadi dekat bahkan
sangat dekat. Awalnya ku kira perasaan ini, akan hanya sebatas kader dengan
seniornya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ternyata kegiatan bakti
sosial yang berjalan selama seminggu itu telah merubah perasaan ku kepadanya,
perasaan ini berubah menjadi rasa kagum kepadanya. Aku tak banyak berharap dari
kedekatan kita ini. Aku pun menyadari pasti sikap mu selama ini hanya sebatas
senior dengan kadernya. Tapi aku nyaman dengan kedekatan kita.
Aku pendam perasaan ini
tanpa ada seorangpun yang tahu, bahkan sahabat ku pun tidak mengetahui ini. Aku
jaga rahasia hati ini, selama kegiatan berlangsung. Disetiap harinya pasti kita
selalu menyapa satu sama lain, tanpa rasa canggung diantara kita. kita selalu
bersendau-gurau bersama disela-sela kegiatan. Dia begitu perhatian kepada ku,
bahkan disaat aku sempat jatuh sakit di hari ke-4 kegiatan bakti sosial
berlangsung, dia selalu mengingatkan ku untuk jangan lupa makan dan memberikan
ku obat yang disediakan disana. disela kegiatan ia pun sesekali menghampiri ku
di sebuah tenda kecil yang dibuatkan untuk ruang kesehatan, hanya sekedar
mengetahui kondisi ku dan menghibur ku. “ya
tuhan seandainya bisa terus sedekat ini dengannya” kata ku dalam hati.
Senyuman dan perhatianmu seakan mennjadi obat yang paling mujarab buatku saat
itu.
Ternyata kedekatanku
dengannya membuat kecurigaan yang lain termasuk sahabatku. Ternyata mereka
diam-diam memperhatikan gerak-gerik ku selama ini dekat dengannya. Aku jadi
salah tingkah jika dekat denganmu, Seakan aku tertangkap basah sedang melakukan
kejahatan. Padahal yang aku rasakan adalah rasa kagum padanya dan yang aku
lakukan hanyalah agar aku bisa selalu dekat dengan mu. Aku seolah-olah sedang
menjalankan introgasi dari seorang penyidik yang menghujaniku seribu
pertanyaan. sahabatku, yang penasaran dengan apa yang aku rasakan saat itu,
akupun mulai menjawab semua pertanyaan dari sahabatku itu satu-persatu. Aku
menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu, rasa kagum ku terhadapnya, salah
satu senior dikampus yaitu ka Putra, Pria yang sedang ku ceritakan itu bernama
“Putra Febriansyah Pratama” senior setahun diatas ku, dia semester 4 Jurusan
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik satu fakultas dengan ku. Aku ceritakan awal mula
kedekatan ku dengannya sampai saat ini pada sahabatku, dia tersenyum
mendengarnya.
“ya..
ampun ternyata selama ini loe suka sama ka
putra, kenapa ga pernah bilang sih?
Pantes
aja ada yang beda gitu klo gue liat loe berdua sama dia” serunya kepadaku.
“gue
malu mir bilangnya”. Jawab ku dengan tersipu malu.
Mir? Oya aku lupa
mengenalkan sahabat ku ini, mira namanya dia teman ku sejak aku awal masuk
dikampus ini, kita selalu bersama-sama sejak semester 1 sampai sekarang. Kita
selalu disebut trio karena selalu bersama-sama, ya ada satu sahabatku lagi yaitu
Ratna, tapi bakti sosial tahun lalu dia tidak ikut kegiatan bakti sosial itu,
karena kegiatan ini diselenggarakan di luar kota jadi dia tidak di izinkan oleh
orang tuanya.
Seiring berjalannya
waktu, hari demi hari ku lewati bersama dengannya selama kegiatan itu
berlangsung, waktu terasa begitu cepat, mungkin karena aku sangat menikmati
setiap kegiatan yang dilakukan selama bakti sosial, seakan tak ada rasa lelah,
aku lupa akan rasa lelah yang melanda karena ada kamu didekatku. Aku harap
waktu tak cepat berakhir, tapi ternyata waktu 7 hari terlalu cepat berakhir dan
terlalu singkat bagiku.
Di penghujung acara kegiatan bakti soasial, mengharuskan
pertemuan kita berakhir. semoga tak hanya di kegitan bakti sosial saja aku bisa
sedekat ini padanya, tapi selesainya kegiatan ini tak berakhir pula kedekatan
kita, bahkan aku harap kita menjadi lebih dekat. Sampai akhirnya aku dan kamu
menjadi kita.
Benar saja meskipun
kegiatan bakti sosial sudah berakhir tidak ada yang berubah, kita tetap dekat
seperti biasanya. Kedekatan kita berlanjut di pesan singkat, hari-hari ku
selalu diwarnai dengan pesan singkat manis yang kau kirimkan pada ku. Saat kita
berpapasan dikampus dia selalu mengembangkan senyumnya pada ku, lekukan kecil
yang jatuh sempurna tepat di bibirnya itu seakan menjadi sihir yang tak bisa ku
hindari. Tapi mengapa setiap berpapasan dengan mu aku selalu ingin menghindar,
bukan karena aku tak lagi menyukaimu, bukan juga karena kau berbuat salah kepada
ku, tapi karena rumor yang telah beredar, bahwa aku suka kepada ka putra, dan
kini rumor itu sampai juga ke telinganya.
Disuatu malam saat kita asik dengan perbincangan kita
melalui pesan singkat, tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan yang tak ku
kira kau akan menanyakannya pada ku.
“kakak
boleh nanya sesuatu sama kamu?” tanyanya.
“
ya boleh, tanya apa ka?”. Jawab ku penasaran.
“apa
benar? kata anak-anak dikampus, kamu suka sama kakak ya?”. Tanyanya tanpa
ragu.
Aku sangat terkejut
membaca pesan singkat darinya, tangan ku gemetar dan lemas seakan tak bisa
menjawab dan membalas pertanyaannya. Perasaan ku campur aduk saat itu. rasa
malu, jengkel, marah, serba salah tingkah, pokoknya tak bisa aku kendalikan
lagi perasaan ini. Aku ingin mengakuinya tapi aku malu, ingin mengelak tapi aku
ragu, ingin marah rasanya, kenapa rahasia ini bisa sampai terdengar ke
telinganya. Aku lama membalas pertanyaannya, karena aku bingung harus menjawab
apa sungguh aku malu. aku malu tertangkap basah telah menyukaimu. aku malu, kamu tau rahasia ini.
“kata
siapa ka? Cuma gosip itu sih”. Kataku menjawab pertanyaannya.
“ya,
ampun de gpp kali, udah jujur aja kamu suka kan sama kakak, kakak gpp kok klo
kamu suka sama kakak beneran”. tanyanya dengan
mendesak aku mengakuinya.
Aku tambah malu, entah
aku bingung apa yang harus aku lakukan, jantung ku benar-benar berdetak sangat
cepat saat itu. Apa yang harus ku katakan padanya. tanpa fikir panjang aku
membalas pertanyaannya.
“apaan
sih ka !! jangan ke ge’eran deh !! siapa juga yang suka sama kakak!!” jawab ku
sinis.
“ooh,
yaudah maaf klo gtu”. Jawabnya singkat.
.....
Sejak saat itu aku tak
lagi menghubunginya, dia pun begitu. Semua pun berubah menjadi kaku dan sangat
berbeda, tak seperti dulu. walaupun ledekan anak-anak kampus bahwa aku menyukainya
tak pernah hilang sampai sekarang dan rasa ini masih sama seperti dulu, sama
persis seperti setahun yang lalu saat aku bisa manatap wajahmu dari dekat dan bercerita
banyak. kedekatan kita dulu, kini benar-benar sudah hilang dan mungkin kita tak
akan bisa sedekat dulu lagi. Sungguh pesan terakhir itu yang ku kirim padanya
membuat ku menyesal. aku tak bermaksud membalas pesan seperti itu. aku hanya
malu, gugup, bingung, dan begitu berat. jika harus, saat itu juga, mengakui,
bahwa aku benar-benar menyukai mu. aku benar-benar belum siap. jika harus
mengakui semua rahasia hati ini, pada mu. jika saja kamu mengerti apa yang aku
rasakan saat itu, bahwa aku hanya perlu waktu yang tepat untuk menyampaikannya
dan mengakui semuanya pada mu. Sungguh aku telah menyesalinya, andai saja tak
ku balas pertanyaanmu seperti malam itu, seandainya saja aku lebih siap
mengakuinya.
Aku hanya takut
kehilanganmu, aku hanya takut jika aku mengakui rahasia hati ini padamu, dan
kamu mengetahui yang sebenarnya, kamu akan menjauhi ku. tapi yang aku takutkan
benar-benar terjadi, kamu menjauh, bahkan saat aku belum sempat mengakui semua
rahasia hati dan perasaan ini pada mu.
Mungkin kisah ini akan
berbeda lagi jalannya, jika aku mengakui “bahwa aku menyukaimu”. tak seperti kisah
yang aku jalani sekarang. aku hanya bisa mengagumimu dari kejauhan, tanpa
berani mendekat. Hanya karena kegengsianku yang terlalu besar ini. Kini sepertinya kegiatan bakti sosial kali ini
akan jauh berbeda dengan kegiatan bakti sosial yang aku jalani tahun lalu. Ilustrasi
yang tak akan pernah terulang kembali.
#EA