Sabtu, 01 Maret 2014

Cinta tapi gengsi

Cinta tapi gengsi
By : Evita Armala


Aku sedang duduk disebuah ruangan bersama teman-teman ku dan beberapa kakak senior  dalam satu organisasi, berkumpul sedang membicarakan tentang kegiatan bakti sosial yang akan diselenggarakan oleh kampus. Saat ini ada yang benar-benar mengganggu fikiran ku sejak tadi, membayangkan sebuah ilustrasi yang tak akan pernah terulang kembali.

Saat berjalannya rapat ini, pandangan ku tak pernah berpaling pada seseorang yang sejak tadi berdiri di depan menjelaskan rencana apa saja yang akan dilaksanakan pada acara bakti sosial nanti. sosok mu tak pernah lepas dari mataku, meperhatikan setiap gerak-gerikmu dan ku dengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulutmu. Ya... kamu adalah sosok yang sudah setahun belakangan ini telah mencuri pandanganku. Aku selalu diam-diam memandangi sosok wajahmu dari kejauhan, aku diam-diam telah menyimpan sebuah goresan wajahmu di dalam ingatanku dalam setahun ini.

.....

Berawal dari pertemuan kita disebuah kegiatan bakti sosial tahun lalu di sebuah desa di daerah jawa barat, kegiatan itu berlangsung selama satu minggu. Dulu sosok mu begitu dekat dengan ku. karena kegiatan bakti sosial tahun lalu, kita menjadi dekat bahkan sangat dekat. Awalnya ku kira perasaan ini, akan hanya sebatas kader dengan seniornya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ternyata kegiatan bakti sosial yang berjalan selama seminggu itu telah merubah perasaan ku kepadanya, perasaan ini berubah menjadi rasa kagum kepadanya. Aku tak banyak berharap dari kedekatan kita ini. Aku pun menyadari pasti sikap mu selama ini hanya sebatas senior dengan kadernya. Tapi aku nyaman dengan kedekatan kita.

Aku pendam perasaan ini tanpa ada seorangpun yang tahu, bahkan sahabat ku pun tidak mengetahui ini. Aku jaga rahasia hati ini, selama kegiatan berlangsung. Disetiap harinya pasti kita selalu menyapa satu sama lain, tanpa rasa canggung diantara kita. kita selalu bersendau-gurau bersama disela-sela kegiatan. Dia begitu perhatian kepada ku, bahkan disaat aku sempat jatuh sakit di hari ke-4 kegiatan bakti sosial berlangsung, dia selalu mengingatkan ku untuk jangan lupa makan dan memberikan ku obat yang disediakan disana. disela kegiatan ia pun sesekali menghampiri ku di sebuah tenda kecil yang dibuatkan untuk ruang kesehatan, hanya sekedar mengetahui kondisi ku dan menghibur ku. “ya tuhan seandainya bisa terus sedekat ini dengannya” kata ku dalam hati. Senyuman dan perhatianmu seakan mennjadi obat yang paling mujarab buatku saat itu.

Ternyata kedekatanku dengannya membuat kecurigaan yang lain termasuk sahabatku. Ternyata mereka diam-diam memperhatikan gerak-gerik ku selama ini dekat dengannya. Aku jadi salah tingkah jika dekat denganmu, Seakan aku tertangkap basah sedang melakukan kejahatan. Padahal yang aku rasakan adalah rasa kagum padanya dan yang aku lakukan hanyalah agar aku bisa selalu dekat dengan mu. Aku seolah-olah sedang menjalankan introgasi dari seorang penyidik yang menghujaniku seribu pertanyaan. sahabatku, yang penasaran dengan apa yang aku rasakan saat itu, akupun mulai menjawab semua pertanyaan dari sahabatku itu satu-persatu. Aku menjelaskan apa yang aku rasakan saat itu, rasa kagum ku terhadapnya, salah satu senior dikampus yaitu ka Putra, Pria yang sedang ku ceritakan itu bernama “Putra Febriansyah Pratama” senior setahun diatas ku, dia semester 4 Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik satu fakultas dengan ku. Aku ceritakan awal mula kedekatan ku dengannya sampai saat ini pada sahabatku, dia tersenyum mendengarnya.

“ya.. ampun ternyata selama ini loe suka sama ka  putra, kenapa ga pernah bilang sih?

Pantes aja ada yang beda gitu klo gue liat loe berdua sama dia” serunya kepadaku.

“gue malu mir bilangnya”. Jawab ku dengan tersipu malu.

Mir? Oya aku lupa mengenalkan sahabat ku ini, mira namanya dia teman ku sejak aku awal masuk dikampus ini, kita selalu bersama-sama sejak semester 1 sampai sekarang. Kita selalu disebut trio karena selalu bersama-sama, ya ada satu sahabatku lagi yaitu Ratna, tapi bakti sosial tahun lalu dia tidak ikut kegiatan bakti sosial itu, karena kegiatan ini diselenggarakan di luar kota jadi dia tidak di izinkan oleh orang tuanya.  
Seiring berjalannya waktu, hari demi hari ku lewati bersama dengannya selama kegiatan itu berlangsung, waktu terasa begitu cepat, mungkin karena aku sangat menikmati setiap kegiatan yang dilakukan selama bakti sosial, seakan tak ada rasa lelah, aku lupa akan rasa lelah yang melanda karena ada kamu didekatku. Aku harap waktu tak cepat berakhir, tapi ternyata waktu 7 hari terlalu cepat berakhir dan terlalu singkat bagiku. 

Di penghujung acara kegiatan bakti soasial, mengharuskan pertemuan kita berakhir. semoga tak hanya di kegitan bakti sosial saja aku bisa sedekat ini padanya, tapi selesainya kegiatan ini tak berakhir pula kedekatan kita, bahkan aku harap kita menjadi lebih dekat. Sampai akhirnya aku dan kamu menjadi kita.
Benar saja meskipun kegiatan bakti sosial sudah berakhir tidak ada yang berubah, kita tetap dekat seperti biasanya. Kedekatan kita berlanjut di pesan singkat, hari-hari ku selalu diwarnai dengan pesan singkat manis yang kau kirimkan pada ku. Saat kita berpapasan dikampus dia selalu mengembangkan senyumnya pada ku, lekukan kecil yang jatuh sempurna tepat di bibirnya itu seakan menjadi sihir yang tak bisa ku hindari. Tapi mengapa setiap berpapasan dengan mu aku selalu ingin menghindar, bukan karena aku tak lagi menyukaimu, bukan juga karena kau berbuat salah kepada ku, tapi karena rumor yang telah beredar, bahwa aku suka kepada ka putra, dan kini rumor itu sampai juga ke telinganya.

Disuatu  malam saat kita asik dengan perbincangan kita melalui pesan singkat, tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan yang tak ku kira kau akan menanyakannya pada ku.

“kakak boleh nanya sesuatu sama kamu?” tanyanya.

“ ya boleh, tanya apa ka?”. Jawab ku penasaran.

“apa benar? kata anak-anak dikampus, kamu suka sama kakak ya?”. Tanyanya tanpa
 ragu.

Aku sangat terkejut membaca pesan singkat darinya, tangan ku gemetar dan lemas seakan tak bisa menjawab dan membalas pertanyaannya. Perasaan ku campur aduk saat itu. rasa malu, jengkel, marah, serba salah tingkah, pokoknya tak bisa aku kendalikan lagi perasaan ini. Aku ingin mengakuinya tapi aku malu, ingin mengelak tapi aku ragu, ingin marah rasanya, kenapa rahasia ini bisa sampai terdengar ke telinganya. Aku lama membalas pertanyaannya, karena aku bingung harus menjawab apa sungguh aku malu. aku malu tertangkap basah telah  menyukaimu. aku malu, kamu tau rahasia ini.

“kata siapa ka? Cuma gosip itu sih”. Kataku menjawab pertanyaannya.

“ya, ampun de gpp kali, udah jujur aja kamu suka kan sama kakak, kakak gpp kok klo
  kamu suka sama kakak beneran”. tanyanya dengan mendesak aku mengakuinya.

Aku tambah malu, entah aku bingung apa yang harus aku lakukan, jantung ku benar-benar berdetak sangat cepat saat itu. Apa yang harus ku katakan padanya. tanpa fikir panjang aku membalas pertanyaannya.

“apaan sih ka !! jangan ke ge’eran deh !! siapa juga yang suka sama kakak!!” jawab ku sinis.

“ooh, yaudah maaf klo gtu”. Jawabnya singkat.

.....

Sejak saat itu aku tak lagi menghubunginya, dia pun begitu. Semua pun berubah menjadi kaku dan sangat berbeda, tak seperti dulu. walaupun ledekan anak-anak kampus bahwa aku menyukainya tak pernah hilang sampai sekarang dan rasa ini masih sama seperti dulu, sama persis seperti setahun yang lalu saat aku bisa manatap wajahmu dari dekat dan bercerita banyak. kedekatan kita dulu, kini benar-benar sudah hilang dan mungkin kita tak akan bisa sedekat dulu lagi. Sungguh pesan terakhir itu yang ku kirim padanya membuat ku menyesal. aku tak bermaksud membalas pesan seperti itu. aku hanya malu, gugup, bingung, dan begitu berat. jika harus, saat itu juga, mengakui, bahwa aku benar-benar menyukai mu. aku benar-benar belum siap. jika harus mengakui semua rahasia hati ini, pada mu. jika saja kamu mengerti apa yang aku rasakan saat itu, bahwa aku hanya perlu waktu yang tepat untuk menyampaikannya dan mengakui semuanya pada mu. Sungguh aku telah menyesalinya, andai saja tak ku balas pertanyaanmu seperti malam itu, seandainya saja aku lebih siap mengakuinya.

Aku hanya takut kehilanganmu, aku hanya takut jika aku mengakui rahasia hati ini padamu, dan kamu mengetahui yang sebenarnya, kamu akan menjauhi ku. tapi yang aku takutkan benar-benar terjadi, kamu menjauh, bahkan saat aku belum sempat mengakui semua rahasia hati dan perasaan ini pada mu.

Mungkin kisah ini akan berbeda lagi jalannya, jika aku mengakui “bahwa aku menyukaimu”. tak seperti kisah yang aku jalani sekarang. aku hanya bisa mengagumimu dari kejauhan, tanpa berani mendekat. Hanya karena kegengsianku yang terlalu besar ini.  Kini sepertinya kegiatan bakti sosial kali ini akan jauh berbeda dengan kegiatan bakti sosial yang aku jalani tahun lalu. Ilustrasi yang tak akan pernah terulang kembali.


#EA